Bergerak lebih cepat, tapi tidak sendirian

ilustrasi: @sutterstock

Ada istilah populer yang mestinya kita semua sudah pernah dengar: kalau ingin lari cepat, berlarilah sendiri. Kalau ingin lari jauh, berlarilah bersama. Versi bahasa Inggrisnya seperti ini: If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.

(Sebelum melanjutkan, siapa tahu Anda ingin tahu asal-usul istilah atau peribahasa ini, Anda akan tertarik membaca artikel berikut)

Tanpa dijelaskan lebih panjang lebar, peribahasa ini sangat mudah dipahami.

Saya kembali teringat dengan istilah ini ketika menjawab pertanyaan pada Instagram Live dalam rangka Ultah GNFI ke-13 dua hari lalu: Apa yang membuat GNFI bisa berjalan sejauh ini?

Sebelumnya, saya ingin memberi penegasan, 13 tahun itu angka yang relatif kalau dikaitkan dengan sebentar atau lama, pendek atau jauh.

Misalnya, dibanding Kompas yang tahun ini berusia 57 tahun, tentu kami masih sangat muda. Tapi dibandingkan dengan Gojek yang tahun ini 12 tahun, dan pada saat 10 tahun mereka sudah menyandang status decacron, berekspansi di beberapa negara, kami ini sudah "ketuaan".  

Setelah menengok ke belakang hingga saat ini. Peribahasa di atas sangat nyambung dengan perjalanan kami di GNFI.

Pertama kali dibuat oleh Akhyari Hananto, GNFI lahir dari keresahannya saat melihat  defisit optimisme di generasi muda karena tidak mendapatkan informasi yang bisa membuat mereka bangga pada bangsanya.  Headline atau primetime media-media saat itu didominasi oleh "bad news".

Sendirian, Akhyari bergerak cepat membuat blog. Pengalamannya berpergian ke berbagai pelosok daerah dan dunia, ditambah produktifitasnya dalam menulis, membuat blog tersebut dengan cepat mendapatkan pembaca.

Upaya sendirian Akhyari membangun GNFI menarik simpati sekaligus penggemar. Mereka  bukan hanya membaca tapi juga membagikan tulisan-tulisan dari website GNFI. Beberapa bahkan ikut membantu hal-hal teknis tanpa berharap imbalan. Dilakukan karena suka dan merasa GNFI layak didukung.    

Upaya sendirian tanpa bentuk badan usaha apapun itu terbukti membuat gerakan-gerakan GNFI terlihat lincah dan sangat praktis. Riset, menulis, menyebarkannya lewat media sosial (mula-mula Twitter lalu Facebook), merespon pertanyaan, dan hal lainnya dilakukan nyaris semuanya sendiri.

Hingga pada sekitar 2014 saya bertemu dengan Mas Ari, begitu saya memanggil Akhyari. Kami berbincang beberapa kali. Saya menangkap energi, semangat, dan wawasannya yang sangat luas.  

Tapi dengan GNFI yang  makin dikenal banyak orang, tampak ia mulai kewalahan. Bekerja solo semua dapat dikendalikan dengan mudah. Tapi melelahkan. Sehingga sulit membayangkan pengembangan selanjutnya.

Dari sinilah fase perjalanan berikutnya GNFI dimulai. Bekerja sebagai tim. Orang-orang yang menopang GNFI tidak lagi sekadar volunteer atau dilibatkan ketika ada proyek, tapi secara penuh bekerja untuk GNFI.

Perubahan wujud dari bentuk yang sangat cair ke organisasi (berbentuk perusahaan) yang dibangun untuk bekerja mewujudkan rencana-rencana pengembangan dengan target, ternyata harus kami bayar dengan upaya coba-coba yang kadang berhasil kadang gagal. Situasi itu sering menggoda kami untuk berpikir: ternyata kerja bersama-sama itu ribet.

Capeknya mengurusi masalah teknis sendirian, jauh lebih ringan dari pada mengurusi masalah non-teknis saat bekerja bersama. Karena saat bersama, agar eksekusi berjalan lancar dan efektif kami harus mencapai konsensus.  Beda sekali saat dikerjakan sendiri. Sat set selesai. No drama.

Bersama bergerak lebih jauh. Tapi inginnya juga cepat. Bisa?

Beruntung kami tidak cepat putus asa. Kami masih percaya kalau mau tumbuh tidak bisa sendirian.  Apalagi, kami juga ingin GNFI ini berumur panjang. Jadi seharusnya tidak bergantung hanya pada satu dua figur yang pasti umurnya terbatas. Baik umur produktifitas maupun umur fisiologis.

GNFI perlu tumbuh sebagai tempat yang menyuburkan kolaborasi orang-orang yang ada di dalamnya. Di mana hasil interaksi mereka menghasilkan dampak berupa gerak laju dan maju bagi organisasi.

Secara lebih luas, interaksi dengan pihak-pihak di luar GNFI seharusnya juga menghasilkan hal yang sama: gerak laju dan maju bagi pertumbuhan bersama.

Ekosistem, bukan ego-sistem

Semakin ke sini, kami semakin menyadari kerja sama itu memang kunci pertumbuhan. Kerja sama di internal maupun kerja sama dengan berbagai pihak di luar GNFI.  Kompetensi dan keahlian makin tersebar, dan kita tidak bisa memenuhi semuanya sendiri.

Membangun semuanya sendiri, menguasai sepenuhnya, bisa saja. Tapi mahal dan butuh sumber daya besar.  Padahal sumber daya internal pasti ada batasnya. Dengan bekerja sama, kita "hanya" perlu memperkuat kompetensi inti kita, lalu berbagi peran dengan yang lainnya. Efisien.

Merujuk artikel Otto Scharmer berjudul From Ego-system to EcoSystem Economies, kita semakin perlu mengembangkan ekosistem dan meninggalkan ego-sistem untuk menghadapi berbagai tantangan dunia.

Egosistem itu melelahkan (juga menjengkelkan), ekosistem itu menyenangkan. Mereka yang tidak senang bekerja sebagai ekosistem biasanya belum selesai dengan egonya.

Ekosistem mensyaratkan keterbukaan dan niat baik. Egosistem menyukai ketertutupan dan selalu curiga dengan itikad orang lain, sehingga susah sekali bekerja sama. Dikiranya dengan menguasai dan mengerjakan sendiri, semuanya bisa dikerjakan lebih praktis, aman, dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Padahal dengan ekosistem yang saling bekerja sama, peribahasa if you want to go far, go alone sudah sering terpatahkan . Kita semakin sering melihat deretan pencapaian besar di sekitar kita yang justru terjadi dengan cepat karena hasil bekerja sama (seperti merger, kerja sama strategis, membangun konsorsium, dan sebagainya). Organisasi-organisasi yang tumbuh signifikan dan inovatif biasanya juga yang mengembangkan kultur kolaborasi.

Kami masih terus belajar soal ini. Sambil mengimplementasikannya dalam organisasi GNFI. Keyakinan kami, bekerja sama dan membangun ekosistem akan mampu membuat bergerak cepat sekaligus jauh. Plus lebih menyenangkan.

Kalau Anda merasa memiliki tujuan-tujuan yang searah dengan GNFI, atau ada yang bisa beririsan, saya rasa seharusnya kita bisa bekerja sama dan membangun ekosistem. Lalu bergerak cepat bersama. Kami akan sangat senang untuk berkenalan.  

Wahyu Aji

Wahyu Aji

Wahyu Aji

Pembelajar yang tak pintar-pintar. Bekerja untuk GNFI, berperan sebagai CEO. Interaksi dapat melalui aji@goodnews.id