Karena Informasi Baik, Seharusnya Tersebar Lebih Luas

Karena Informasi Baik, Seharusnya Tersebar Lebih Luas

Pertengahan abad 19, seorang jurnalis bernama Charles Anderson Dana menulis kelakar lucu yang dikenal hingga kini dalam dunia jurnalistik. Ia mengatakan, “When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is news”. Oleh generasi selanjutnya, “teori” ini dirangkum menjadi mantra yang lebih sederhana tapi nyata hingga kini, yang berbunyi “Bad News is Good News”.

Begitulah yang dipercayai. Bahkan bukan hanya berlaku bagi kalangan pembuat berita, kita pada umumnya sebagai penerima maupun penikmat konten seakan memang lebih mudah tertarik dan hanyut oleh berita buruk dari pada berita baik. Apalagi ketika internet dan social media membuat kita tak lagi menjadi penikmat yang pasif, namun sekaligus memungkinkan menjadi produsen dan turut menyebarkan konten.

Mari lihat di timeline media sosial kita, jangan-jangan banyak yang negatif dari pada positif, termasuk post maupun status-status yang kita buat sendiri atau sekadar ikut “klik” lalu “share”.

Satu pagi sekitar tiga tahun lalu, saya pernah mencoba menghitung perbandingan antara  “good news” dan “bad news

pada sebuah program berita di salah satu televisi. Hasilnya, dalam setengah jam menonton televisi, 5 dari 7 berita yang ditayangkan adalah yang bernada negatif. Mulai dari kriminalitas jalananan, korupsi, kemiskinan, hingga hal yang dianggap sebagai kegagalan pemerintah. Dua berita sisanya ternyata bukan juga sesuatu yang terlalu positif, hanya berita biasa-biasa saja bahkan cenderung informasi selingan yang kurang penting.

Mari bayangkan seandainya ternyata yang kita lihat, tonton, baca tentang negeri ini semuanya seperti itu. Belum lagi ditambah informasi-informasi yang belum tentu benar tapi sudah sangat ramai tersebar dan disebar melalui media sosial. Bukankan sudut pandang kita terhadap negeri sendiri lama-lama akan menjadi negatif, skeptis, bahkan pesismis? Apapun yang di luar kita akan tampak buruk, gagal, dan tak ada harapan. Kita adalah apa yang kita konsumsi dan produksi.

Padahal di berbagai pelosok masih banyak mereka yang terus bergerak, berbuat sesuatu, menciptakan inovasi, menawarkan solusi, bahkan mengukir prestasi. Mereka mungkin ada yang sudah diberitakan, tapi tidak berhasil mendapat perhatian kita.

Mengapa informasi mengenai hal-hal yang masih baik dan banyak sekali jumlahnya di sekitar kita tersebut tidak lebih kita ketahui dari pada informasi negatif tentang negeri sendiri? Inilah yang menjadi pertanyaan paling menggangu sahabat kami, Akhyari Hananto, delapan tahun lalu, yang mendorongnya membuat sebuah blog sederhana berisikan rangkuman berita dan informasi positif tentang Indonesia. Blog tersebut ia namai “Good News From Indonesia” atau GNFI. Ketika media sosial dengan cepat disukai anak-anak muda, informasi-informasi yang dirangkum maupun dibuat GNFI pun menyebar lebih cepat dan luas melalui platform jejaring sosial ini.

Seiring konsistensi mengumpulkan, merangkum, dan menyebarkan informasi-informasi positif tentang Indonesia, upaya ini ternyata menarik perhatian publik. Pengisian konten GNFI bukan lagi dilakukan sendiri, melainkan mulai menarik banyak orang untuk ikut menuliskan serta mengabarkan informasi positif yang mereka jumpai di dekat mereka masing-masing. Mereka berasal dari beragam latar belakang serta profesi. Mahasiswa, pelajar, guru, wirausahawan, aktivis, tentara, pilot pun ada.

Di media sosial pun tak kalah menggembirakan. Ratusan ribu orang mengikuti akun-akun media sosial GNFI, dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga menteri dan presiden.

Tentu saja, ini bukan hanya soal angka-angka atau perhatian yang besar pada konten yang disebarkan oleh GNFI. Tapi tentang pertanda bahwa harapan ternyata masih sangat banyak. Keinginan kita untuk melihat Indonesia lebih baik masih sangat besar. Dan yang lebih penting lagi, Indonesia memang benar-benar luar biasa, dari alam hingga sumber daya manusianya.

Inilah yang membuat pada awal tahun 2015 lalu GNFI memutuskan untuk memantapkan rencana, yaitu menjadikannya terkelola lebih baik dan berkelanjutan. Ini bukan tentang GNFI sendiri, tapi karena memang sangat banyak hal positif yang ada di negeri ini. Hal-hal positif ini, kami yakin akan menginspirasi lebih banyak lagi orang yang juga akan melahirkan hal-hal positif berikutnya.

Upaya untuk mengelola lebih baik dimulai dengan memperbaiki tampilan web, melakukan diferensiasi format konten menjadi artikel, foto, infografis, videografis, video, dan sebentar lagi majalah digital. Bahkan konten juga tersebar melalui produk merchandise. Kami ingin sebanyak mungkin orang yang mendapatkan informasi baik tentang Indonesia, tentang negerinya sendiri.

Hari ini, 16 Januari 2016, kami meluncurkan tampilan website goodnewsfromindonesia.org yang baru. Website ini sekaligus berfungsi sebagai platform berbagi informasi positif tentang Indonesia. Karena kami yakin informasi positif dan membanggakan tersebar sangat banyak di mana saja, dan mungkin itu di dekat Anda. Lalu, mengapa Anda tidak mengabarkannya?

Untuk memudahkan setiap orang mengabarkan informasi positif tentang Indonesia itulah kami terus memperbaiki fitur-fitur di website GNFI, terutama yang memudahkan siapapun menjadi bagian dari GNFI dan turut menyebarkan konten positif. Karena untuk mewujudkan rencana baik tak bisa sendirian, mari bergerak bersama-sama.

Salam hangat,

Wahyu Aji

Good News From Indonesia

Good News From Indonesia

Restoring Optimism, Rebuilding Confidence
Indonesia