Saat Kami Makin Bisa Membedakan Antara: Ngantor dan Kerja

ilustrasi: shutterstock

Sebelum pandemi, kita sulit membayangkan kerja tanpa ngantor. Kantor atau tempat kerja menjadi faktor kunci bagi produktifitas. Ia adalah pusat dari pembentukan budaya kerja, sekaligus menjadi daya tarik yang penting untuk memikat SDM andalan.

Itulah mengapa perusahaan-perusahaan selalu punya mimpi untuk bisa memiliki kantor di lokasi strategis, di pusat-pusat bisnis. Kalau kas belum memungkinkan, perusahaan pemula akan sewa virtual office – yang sampai tiga tahun lalu merujuk ke definisi sewa alamat kantor di lokasi strategis dan nama gedung yang presitisius, dengan sedikit benefit misalnya pemakaian ruang rapat beberapa jam dalam sebulan yang kadang tak pernah dipakai.

Sudut pandang kami di GNFI pun pernah begitu soal kantor.

Demi memastikan produktifitas, sama seperti umumnya perusahaan lain, kami berusaha membuat setiap orang datang dan berada di kantor di jam yang sudah ditentukan. Kami pernah memasang mesin absensi dengan menggunakan sidik jari seperti yang dilakukan oleh kantor-kantor lain.

Meskipun waktu itu sebenarnya kami sudah mulai menimbang-nimbang bagaimana caranya agar tiap orang bisa bekerja dari manapun. Tapi tetap saja keputusannya ngantor masih menjadi cara terbaik untuk bekerja.

Apalagi, saat itu kami merasa bahwa sebagai startup yang baru berdiri, GNFI masih dalam tahap forming alias pembentukan pada banyak aspek. Mulai dari pengembangan produk, model bisnis, sistem operasional, budaya kerja, dan hal-hal lainnya yang kami pikir penting dan harus dilakukan di kantor.  

Hingga datanglah pandemi, lalu kita semua dipaksa bekerja dengan cara yang berbeda.

Mengikuti himbauan pemerintah, terhitung Maret 2020 kami juga menerapkan WFH. Kantor  GNFI  di Jakarta dan Surabaya yang biasanya ramai, ditinggalkan penghuninya. Tidak ada lagi ritual makan siang bersama tiap hari kerja, atau main PS selepas jam kantor, atau pingpong di sore atau pagi hari.

Mungkin sama juga dengan Anda, waktu itu kami berpikir "Ah, paling ini hanya beberapa bulan saja, tiga bulan paling lama". Sehingga kami katakan kepada seluruh tim bahwa kebijakan WFH akan ditinjau tiap tiga bulan.

Tapi rencana tinggal rencana, tiga bulan berlalu dan kondisi pandemi malah memburuk. Begitupun dengan tiga bulan berikutnya, juga berikutnya lagi.

Januari 2021 menjadi keputusan bulat bagi kami tentang cara kerja selanjutnya yang akan digunakan di GNFI: WFH secara permanen. Pertimbangannya sederhana:  kami merasa banyak belajar selama tiga kuartal bekerja dengan cara remote sepenuhnya.  Cara-cara koordinasi dan kerja jarak jauh kami coba, trial and error. Sayang sekali kalau "investasi" pelajaran tersebut tidak membuat kami berubah, atau malah kembali dengan cara kerja yang lama.

Dan di sinilah kami sekarang. Apakah cara kerja seperti ini membuat GNFI lebih produktif dan sukses? Masih perlu diuji. Kami menjaga diri agar tidak cepat cepat puas, karena situasi dapat berubah sewaktu-waktu. Tapi kembali mewajibkan setiap orang di GNFI untuk ngantor rasanya sudah bukan pilihan lagi saat ini. Kerja dan ngantor, menurut kami, tidak lagi identik.

Setidaknya, berikut yang terjadi pada GNFI setelah menerapkan WFH yang akhirnya jadi WFA (Work From Anywhere):

  • Dulu, setiap rekrutmen talent baru selalu mempertimbangkan lokasi atau kesediaan berdomisili (Jakarta atau Surabaya) sesuai kantor GNFI berada. Sekarang, hal tersebut jarang dipertimbangkan selama talent bisa produktif. Sehingga kalau sebelumnya  tim terkonsentrasi di dua kota saja, kini tersebar di belasan kota/daerah yang berbeda. Ini memudahkan kami mendapatkan talent.
  • Ide-ide dapat cepat tereksekusi, akibat koordinasi dan kolaborasi yang  bisa terjadi secara lebih spontan, tanpa harus kesulitan menyamakan jadwal untuk ketemu langsung. Mungkin inilah salah satu yang menyebabkan setelah  WFH permanen, GNFI justru meluncurkan beberapa inisiatif baru, antara lain: goodstats.id, goodside.id, digitalmaturity.id, dan Festival Negeri Kolaborasi di sepanjang 2021.
  • Dengan bantuan berbagai platform, suasana transparan diciptakan. Agar setiap orang di GNFI tahu apa yang akan dicapai perusahaan, sudah sampai mana, dan apa yang sedang dikerjakan orang/bagian lain untuk mencapai sasaran tersebut. Sehingga meskipun tidak bertemu langsung, seharusnya tidak ada orang yang kudet (kurang update) dengan apa yang sedang terjadi.

Terlihat begitu indah? Bisa jadi begitu, kalau pas indahnya. Tapi seperti apapun juga, semuanya pasti ada bagian menangtangnya. Apa itu? Saya akan bagikan di tulisan lain ya.

Wahyu Aji

Wahyu Aji

Wahyu Aji

Pembelajar yang tak pintar-pintar. Bekerja untuk GNFI, berperan sebagai CEO. Interaksi dapat melalui aji@goodnews.id