Satu Semangat, Banyak Warna
3 min read

Satu Semangat, Banyak Warna

Satu Semangat, Banyak Warna
Photo by Blair Fraser / Unsplash

Pada satu bincang sore, seorang kawan yang bergelut di industri digital berkomentar bahwa “nasionalisme kita sedang tinggi di dunia digital”. Ia merujuk banyaknya percakapan, gerakan, hashtag, maupun konten-konten tentang kebanggaan dan kecintaan pada Indonesia.

Gerakan tersebut bukan hanya beredar di dunia digital, tapi juga merambah ke kegiatan-kegiatan offline yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya upaya yang digagas individu, kelompok kecil, maupun kolaborasi masyarakat yang lebih besar untuk berbuat sesuatu dan menjadi solusi bagi beragam persoalan negeri. Semuanya berbalut nasionalisme.

Bukankah ini gejala bagus?

Di saat terdapat 170 juta generasi usia produktif yang menjadikan Indonesia saat ini sedang berada dalam momentum bonus demografi hingga tahun 2030, kita bisa bayangkan apabila sebagian besar generasi tersebut begitu mencintai negerinya. Rasa cinta itulah yang melahirkan semangat untuk membangun, untuk tak mau ketinggalan dari kemajuan bangsa lain, untuk tak mau berdiam diri menunggu datangnya perubahan dengan hanya berpangku tangan, apalagi bersikap apatis dan pesimis.

Jumlah 170 juta penduduk usia produktif tersebut sama sekali tidak bisa diremehkan. Jumlah ini lebih besar dari jumlah penduduk empat negara tetangga (Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia) digabung menjadi satu. Betapa luar biasanya energi 170 juta orang berusia produktif tersebut jika sebagian besar berpikir dan bersikap positif.

Namun sebaliknya, apabila sebagian besar jumlah tersebut ternyata justru tidak produktif dengan ide, sikap, dan aktivitas yang positif … bayangan yang ada setelah masa bonus demografi terlewati menjadi sesuatu yang sungguh tidak ingin kita hadapi. Tentu kita tidak ingin fenomena yang kedua yang terjadi. Karena itu tidak ada pilihan lain, kita harus benar-benar memanfaatkan momentum ini untuk lompatan kemajuan yang tidak kecil.

Dan sungguh membesarkan hati, dalam momentum ini ternyata nuansa nasionalisme justru sedang bagus. Meskipun tentu saja, tidak semestinya kita berhenti pada hanya semangat. Perlu lebih banyak tindakan, perlu lebih banyak upaya untuk mewujudkan ide-ide baik menjadi kenyataan.

Tentang kontribusi

Kami percaya, setiap orang bisa mengambil bagian kontribusinya masing-masing. Tidak ada yang remeh ketika kita sudah bicara kontribusi. Dan soal kontribusi, semua dari kita dapat mengabil bagian dengan apa yang kita paling bisa.

Dari sisi Good News From Indonesia (GNFI), misalnya, dari awal semangat kami adalah untuk menyebarkan sebanyak mungkin informasi positif tentang Indonesia, yang jumlahnya memang masih sangat banyak di sekitar kita. Hal-hal positif tersebut adalah informasi tentang mereka yang terus berkarya, berinovasi, membuat solusi, hingga tentang begitu besarnya potensi yang kita miliki sebagai modal untuk menjadi bangsa yang besar. Tidak ada keluhan bagi orang-orang tersebut, kecuali langsung mereka susul dengan upaya untuk mengatasi pesoalan.

Seperti halnya informasi negatif yang menularkan pesimisme, kabar positif pun akan mampu menginspirasi tindakan-tindakan positif berikutnya. Karena itulah kami merasa perlu terus merawat apa yang selama ini sudah kami lakukan, sebagai upaya kecil di antara upaya-upaya hebat anak negeri lainnya yang tak mau menyerah dengan keluhan ketika menyaksikan tantangan.

Sejauh ini, kami semakin melihat bahwa penyebaran informasi positif tidak hanya baik, tapi memang perlu. Dan informasi baik, perlu dikemas dengan cara yang baik juga agar ia semakin menarik banyak orang untuk mengaksesnya.

Inilah yang sedang GNFI lakukan. Bermula dari blog, kemudian informasi-informasi yang tersebar melalui media sosial, kemudian infografis dan videografis untuk merangkum berbagai data agar lebih mudah dicerna dan disebarkan. Beragam format informasi ini akan lebih mudah menjangkau beragam tipe orang juga.

Dan baru-baru ini kami menerbitkan majalah. Masih dalam format digital karena memang selama ini kami menggunakan platform ini.

Mengapa majalah? Karena tidak semua orang sempat mengunjungi website GNFI setiap hari, tidak pula semua orang memantau linimasa media sosial setiap waktu. Karena itulah kami merangkumkannya dalam sebuah majalah yang saat ini akan terbit sebulan sekali, sehingga untuk kawan-kawan yang tidak sempat berkunjung dan memantau linimasa setiap hari tetap bisa mendapat informasi pilihan GNFI.

Inilah semangat kami untuk terus mengabarkan hal-hal baik yang ada di sekitar kita, yang jumlahnya sangat banyak karena inovasi, perbuatan, kreatifitas tumbuh subur setiap hari. Semangat ini hadir dalam banyak warna, dalam banyak format.

Inilah semangat kita, semangat untuk menjadikan diri sendiri sebagai bagian dari “kabar baik dari Indonesia”.

Jabat erat,

Wahyu Aji