Merawat Saling Percaya dalam Tim

ilustrasi @shutterstock


Nasehat ini terdengar kuno dan jauh dari kesan canggih, tapi relevan sepanjang jaman. Saya akan mengulanginya di kesempatan ini: Modal utama kerja sama adalah saling percaya.

Kita bisa mengganti kata kerja sama dengan dengan “bermitra”, “berbisnis”, “tim”, “membangun organisasi”, hingga “membangun keluarga”.  Maknanya akan sama saja. Kepercayaan adalah kunci.

Apa yang dapat kita harapkan dari tim yang tidak saling percaya? Alih-alih produktifitas dan koordinasi berjalan baik, drama akan ada di mana-mana. Komunikasi diliputi prasangka. Kalau saja kelihatan ada harmoni, biasanya bersifat semu.

Sebelum ke hal-hal yang perlu dilakukan untuk merawat suasana saling percaya dalam tim, yang sangat perlu dipahami bersama adalah kepercayaan akan rapuh apabila hanya satu arah. Kita tidak bisa menuntut orang lain percaya ke kita, sementara kita sendiri tidak terlalu percaya pada mereka.

Mungkin Anda pernah melihat orang seperti ini dalam organisasi, yang menuntut orang lain untuk terbuka dan memberikan informasi yang cukup bahkan detil padanya. Kalau terlewat sebuah informasi, ia komplain. Tapi ia kerap menyimpan informasi untuk dirinya sendiri. Tak mau berbagi.

Orang seperti ini sangat berbahaya apabila ada dalam tim. Apalagi ketika ia memegang posisi yang penting. Lebih mengerikan lagi, kalau jumlahnya bukan hanya satu di sebuah organisasi.

Bagaimana agar kesalingpercayaan dalam organisasi dapat terawat?

Pertama, idealnya kepercayaan harus dibangun dari awal sekali sebelum tim atau kerja sama terbentuk. Masing-masing pihak saling menyampaikan ekspektasi. Kalau pada akhirnya tidak merasa ada kecocokan, tidak perlu dipaksakan harus bekerja sama.

Kedua, komunikasi yang transparan dan terbuka. Ketidakpercayaan tumbuh subur di kondisi yang serba tertutup dan samar-samar. Keadaan seperti ini biasanya dengan cepat diikuti dengan kusak-kusuk di sudut-sudut kantor atau percakapan antara anggota tim. Kondisi  ini adalah lahan subur bagi pertumbuhan bibit-bibit toxic.

Ketiga, membangun sistem agar setiap aspek dalam organisasi berlangsung akuntabel. Singkatnya, akuntabilitas adalah kondisi yang dapat dipertanggungjawabkan. Agar akuntabel, organisasi perlu punya sistem pencatatan, pendokumentasian, sekaligus menjadikan setiap aktivitas memiliki ukuran yang dapat dilihat bersama.

Akuntabilitas perlu ada sejak dalam proses membuat rencana, pelaksanaan, hingga mempertanggungjawabkan hasilnya.

Keempat, secara berkala cek ulang komitmen yang telah dibangun bersama. Hal ini bisa dilakukan baik secara formal misalnya dalam rapat kerja, maupun  informal dalam kegiatan yang lebih santai.

Mengapa harus mengecek komitmen? Karena situasi kerja sama tidak bersifat statis. Banyak hal yang dapat memengaruhi naik turunnya rasa saling percaya.

Lalu bagaimana kalau ada pihak yang mulai tidak saling percaya?

Pertama kali tentu upaya untuk memperbaiki kepercayaan perlu dilakukan. Kalau perlu langkah pertama hingga ketiga bisa diulang kembali.

Oke, sudah dilakukan. Namun bagaimana kalau tetap tidak bisa menumbuhkan kepercayaan lagi dalam bekerja sama? Percayalah, memutuskan tidak meneruskan kerja  sama tidak selalu berarti buruk. Tidak semua teman baik dapat menjadi teman bisnis yang baik.

Dan kalau seorang teman tiba-tiba menjadi tidak baik baik setelah tidak lagi menjadi mitra kerja atau bisnis, berarti dia atau mereka memang bukan teman yang baik untuk Anda.

Wahyu Aji

Wahyu Aji

Saat ini berperan sebagai CEO di GNFI. Interaksi dapat melalui aji@goodnews.id